Camila Vallejo, perempuan revolusioner dari Amerika Latin
|
Minggu, 24 Juni 2012 - 13:34
|
Sumber gambar : Camila Vallejo/istimewa
Perempuan dari Amerika Latin ini punya nama Camila Vallejo
Dowling. Dia cantik tapi bukan bintang film. Tubuhnya aduhai tapi bukan model.
Camila pimpinan pergerakan massa rakyat di Chile.
Rambutnya panjang bergelombang. Bola matanya indah
kehijauan. Di hidung yang mancung itu bergantung anting. Ya, hidung perempuan
kelahiran 28 April 1988 ini ditindik.
Tempo hari, sewaktu jalan-jalan di Santiago, Ibukota Chile
dipenuhi barisan panjang mahasiswa, buruh, dan unsur massa rakyat lainnya
ketika menentang rencana privatisasi pendidikan, Camila lah yang memimpin.
Kala itu dia menjabat Presiden Federasi Mahasiswa
Universitas Chile (FECh). Aksi massa yang berlangsung berhari-hari itu sontak
menjadi santapan empuk para pemburu berita. Wajah Camila pun bermunculan di
media massa, lokal dan internasional. Termasuk Indonesia.
Berbagai televisi lantas rebutan mengundangnya untuk
talkshow. Tak hanya pandai berorasi memimpin massa. Rupanya dia juga piawai
berdebat di TV. Tak ayal jika banyak pemuda yang tergila-gila.
Satu di antaranya Gustavo Bombal. Seniman ini membuat surat
cinta terbuka dan menciptakan sebuah lagu untuk gadis pujaan hati.
Diundang Fidel Castro
Sepak terjang Camila Vallejo mampu menarik perhatian
pemimpin revolusi Chuba, Fidel Castro. Rabu, 4 April 2012 silam, Castro
mengundang perempuan revolusioner itu ke Chuba. Camila datang bersama dua
rekannya, Karol Cariola dan Luis Lobos dari Pemuda Komunis Chile.
Pertemuan itu berlangsung tiga jam. Dalam kesempatan itu
Castro membagikan buku terbarunya “Guerrillero del Tiempo” untuk tiga tamunya
itu.
Meski sudah banyak makan asam garam, Castro tidak menggurui
ketiga anak muda itu. Tidak ada nasehat. Beberapa media menulis, Castro hanya
menyampaikan dukungan terhadap perjuangan mahasiswa di Chile dan memuji
pemimpin karismatik gerakan ini; Camila Vallejo.
“Kita harus mendukung ide dari pemimpin muda Chile, Camila
Vallejo, hingga pendidikan bisa gratis dan bisa diakses oleh seluruh rakyat,”
begitu kata Castro.
Gerakan mahasiswa Chile, kata Fidel Castro, telah berhasil
menyelamatkan dan mengembalikan kepercayaan diri manusia. Menurut dia, selama
ini manusia selalu dihadapkan dengan apa yang disebut akhir sejarah. Manusia
dipaksa tunduk pada tatanan yang ada dan tidak ada pilihan lain.
“Dengan gerakan anti-privatisasi pendidikan, gerakan
mahasiswa Chile telah menjadi subjek dari transformasi. Ini menyiratkan adanya
kekuatan yang bangkit melawan ketidaksetaraan, yaitu kekuatan
transformasi.”
Pertemuan dengan Fidel Castro bagi Camila Vallejo amatlah
istimewa. “Ini benar-benar hak istimewa. Fidel bagi saya dan pemuda kiri di
Chile adalah salah satu pemimpin yang terpenting di dunia, seorang visioner
yang besar,” kata Camila.
Senada juga diungkap Karol Cariola. Dalam pandangannya,
Fidel Castro adalah contoh terbaik dari perjuangan. “Kami menyimpan kebanggaan
dengan orang seperti Fidel, Che Guevara, Gladys Marin (pemimpin gerakan
mahasiswa kiri Chile), Pablo Neruda, dan pahlawan kiri Amerika Latin lainnya.”
Forum dunia
Tak hanya berkecambah di kawasan Amerika Latin. Camila juga
diundang sejumlah negara di Eropa, seperti Jerman. Di sana dia didaulat menjadi
pembicara dalam sebuah forum yang diorganisir oleh Partai Die Linke yang
berhaluan anti kapitalisme.
Belum lama ini, tepatnya 10 Februari 2012, Camila Vallejo
mendatangi markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss. Dia
melaporkan berbagai bentuk kriminalisasi aktivis pergerakan di negerinya.
Bersama beberapa rekannya, Camila ditemui Komisioner PBB
untuk urusan Hak Azasi Manusia, Navi Pillay. Mereka mengadukan bahwa saat ini
parlemen Chile sedang merancang sebuah Undang-Undang yang mengebiri hak rakyat
Chile untuk menggelar aksi demonstrasi.
UU itu, menurut dia, memungkinkan penguasa mengkriminalkan
aksi damai jika mereka melakukan aksi pendudukan di tempat-tempat umum dan
memblokir jalan. Bahkan para intelektual kritis dapat dipenjara paling minimal
tiga tahun karena tuduhan menghasut.
Inilah yang kemudian membuat banyak pihak menyandingkan
namanya dengan Bunda Teresa dan Che Guevara. Sangat humanis sekaligus
revolusioner.
Sekadar catatan, 2011 lalu, nama pemimpin gerakan mahasiswa
Chile itu muncul sebagai feature “person of the year” di majalah
Time.
Dia juga didaulat oleh pembaca majalah Guardian di Inggris
sebagai manusia paling populer di tahun 2011.
Camila Vallejo mengumpulkan suara cukup mencolok: 78% suara.
Ia mengalahkan tokoh yang dianggap pemicu revolusi Tunisia, Mohammed Bouazizi,
yang hanya mengumpulkan 14,9%.
Vallejo juga jauh mengungguli pemimpin pro-demokrasi
Nyanmar, Aung San Suu Kyi, yang hanya mengumpulkan 0,8% suara.
Nama lainnya adalah Kanselir Jerman, Angela Merker, yang
mengumpulkan 1,2% suara. Lalu, ada pula nama peraih nobel Kenya, Wangari
Maathai, dengan 0,7% suara. Sedangkan Wael Ghonim, eksekutif pemasaran Google
yang dianggap pahlawan revolusi Mesir, hanya mendapat 0,8% suara.
Baru-baru ini, nama Camila kembali ramai disebut-sebut insan
pers menyusul aksinya menentang kunjungan Presiden Amerika, Barack Obama ke
Chile. Saat itu dia memimpin teman-temannya turun ke jalan. (Wenri
Wanhar/dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar