Jumat, 02 Oktober 2015

Kita Mungkin


Kita mungkin bertemunya mata air
Mungkin pula sungai yang mengalir
Kita mungkin hanya jejak luka
Yang letakkan letih sebentar

Kita mungkin janji air pada tanah
Mungkin pula janji angin pada api
Hidup agar tetap membuat tumbuh
Tak padamkan setiap janji

Kumencari kau di pusat raga
Kumencari kau di pusat rasa
Kumencari kau di pusat raga
Kumencari kau di pusa rasa

Jika kau mengalir sebagai dusta, aku adalah kata
Jika kau dendam, aku sebagai damai
Jika kau berhembus sebagai maut, aku adalah waktu
jika kau dosa, aku sebagai doa

*Sisir Tanah

Kamis, 01 Oktober 2015

Aksi Seribu Lilin Solidaritas untuk Salim Kancil; Nyawa Tak Semahal Tambang







30 September 2015 kami PEMBEBASAN (Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional) Yogyakarta kembali turun ke jalan menggelar aksi serentak nasional seribu lilin didepan istana Yogyakarta sebagai bentuk solidaritas untuk Salim Kancil, seorang petani yang dibunuh dengan biadab oleh preman bayaran pemilik perusahaan tambang di Kota Lumajang Jawa Timur karena mempertahankan tanahnya. Aksi serentak nasional ini digelar di seluruh kolektif PEMBEBASAN di Nusantara.

Berawal dari Penolakan FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDULI DESA SELOK AWAR – AWAR, Pasirian Kab. Lumajang terhadap penambangan pasir besi yang berkedok pariwisata yang justru berakibat rusaknya lingkungan desa pada Januari 2015.  Mereka mulai menyampaikan penolakan dan permohonan audiensi pada Bupati (Juni 2015) tapi tak medapat tanggapan, sampai akhirnya mereka memutuskan menyetop truk pengangkut pasir (9 September, 2015). Sehari setelah itu, sekelompok Preman suruhan kepala desa mulai melakukan intimidasi bahkan mengancam akan membunuh Tosan, salah satu tokoh yang menolak penambangan tersebut.

Pada 11 September, FORUM KOMUNIKASI  melaporkan ancaman pembunuhan tersebut kepada Polres Lumajang. Tapi belum juga ada tindakan tegas dari Polres Lumajang. Mereka juga melaporkan bahwa tambang itu ilegal (Sept. 21) dan berencana menghentikan pertambangan yang terus berjalan pada 26 Sept.
Pada pagi hari, 26 Sept. 2015. Tosan kembali didatangi puluhan preman yang langsung mengeroyoknya. Korban terjatuh, dianiaya, dipukul dengan pentungan kayu, pacul, Batu dan clurit, setelah terjatuh, mereka sempat melindas dengan sepeda motor. Tosan akhirnya diselamatkan temannya dan dibawa ke Rumah Sakit.
Gerombolan Preman kemudian  mendatangi rumah Salim Kancil - salah satu tokoh FORUM KOMUNIKASI, yang pagi itu sedang menggendong cucunya di rumah. Salim Kancil lantas menaruh cucunya dilantai, sebelum akhirnya tangannya diikat  lantas diseret ke balai desa setempat yang jaraknya sekitar 2 km, disaksikan warga desa yang ketakutan, termasuk anak-anak yang sedang belajar di PAUD.
Sampai balai desa, dia dipukuli dan disiksa distrum Listrik, dan digergaji lehernya. Jenasahnya di buang di jalan depan pintu masuk kuburan. Lihat selengkapnya di:

 
Dipantara, selaku koordinator lapangan menjelaskan Musuh petani sudah lama berkonsolidasi: pengusaha (tuan tanah—militer—pemerintahan kapitalis; menghancurkan kesejahteraan kaum tani, merampas tanah, menentukan komoditas (monopoli harga), menghancurkan lingkungan (konservasi sawah/kebun menjadi infrastruktur pengolahan). Sabotase tanah oleh rezim dari tahun ke tahun selalu membangkitkan perlawanan kaum tani Indonesia. Para petani sering dipaksa berhadap-hadapan dengan penguasa tanah (modal asing dan lokal). Selain itu, seringkali juga para petani berhadapan dengan tentara, baik tentara itu sebagai penjaga modal maupun sebagai penguasa tanah itu sendiri.

Hari ini, Salim Kancil dibunuh, ada juga yang disiksa. Tentu mengingatkan bahwa 50 tahun (setengah abad) yang lalu, lebih dari 360.000 petani dari Barisan Tani Indonesia dibantai dan disiksa. Musuhnya sama, meski jamannya berbeda. Permusuhan abadi inilah yang mengharuskan penyatuan perjuangan rakyat segera dilaksanakan. Berdasarkan data dari Walhi, tahun 2014 telah terjadi 472 konflik agraria dengan luas wilayah mencapai 2.860.977,07 hektare yang melibatkan 105.887 KK. Jumlah konflik tersebut meningkat sebanyak 103 konflik (27,9 persen) jika dibandingkan dengan jumlah konflik di tahun 2013 (369 konflik).

Tentu ini bukan kejadian yang pertama kali. Hingga sampai saat ini, aparat kepolisian hanya menangkap pelaku lapangan, bukan otak pelakunya, pemilik ijin usaha tambang. Bahkan bupati Lumajang bernama As'at, ketika diwawancarai di televisi selalu berupaya cuci tangan dengan alasan ijin usaha tersebut diteken kontrak sebelum dia terpilih. Sampai di sini, bupati Lumajang terlihat tak mau bertanggung jawab. Karakter busuk pejabat itulah yang menjadikan mengapa ijin usaha perusahaan tambang di daerah-daerah begitu mudah sehingga kekerasan terhadap petani yang terdampak tidak terlindungi.

Sementara, proses akumulasi dalam wilayah pertanian, di tengah serangan kapitalisme, terus berjalan di bawah naungan pemerintah dan militer-milisi sipil reaksioner. Kasus perebutan tanah, klaim atas penguasaan tanah oleh militer (kepentingan bisnis tentara) selalu berhadapan dengan rakyat di pedesaan, cangkul dan parang dihadapi dengan senjata laras panjang dan peluru tajam aparat berseragam dan preman.

Pembacaan sikap dibacakan oleh Adly Pellupessy selaku Koordinator Umum sekaligus Penanggungjawab politik wilayah Yogyakarta:

1. Seret dan Penjarakan aktor utama pembunuhan Salim Kancil.
2. Hentikan pemberian ijin pertambangan dan aktifitas tambang.
3. Hentikan perampasan lahan.
4. Tanah, modal dan tehnologi modern gratis untuk petani.

Aksi berlangsung lancar diakhiri dengan menyanyikan lagu Internasionale.

Jumat, 21 Agustus 2015

mencintaimu dalam kedamaian



hai sayang, selamat malam, sudah pukul 11.36 wib saat kukirim pesan ini. kau tau, banyak hal yang sudah terjadi disini, dan begitupun pada kita, lama aku merenung, sampai aku mendapatkan sebuah kesepakatan hati dan pikiranku sendiri, aku memutuskan Aku akan mencintai kau dengan ringan hati. Itulah kenapa aku berprinsip kejujuran dan keterbukaan dalam suatu hubungan adalah lebih dari penting. Tak perlu ada yg harus ditutup2i karna bagaimanapun sebuah kabar, lebih kuterima karena sebuah kejujuran. dan tak perlu kau menanyakan keberadaan perasaan sakit dan terluka karna aku adalah manusia juga yang memiliki hati dan perasaan yang begitu halus, Aku akan menyayangi kau dengan damai, rasa percaya, tanpa harus aku takut kehilangan kau, dan jika suatu saat tak bisa lagi kita bertahan satu sama lain, kita akan bisa pastikan itu atas kesepakatan bersama dan masih ada senyuman damai. Salam cinta damai sayang 



cinta dari kota yogyakarta smile emoticon



Kamis, 18 Juni 2015

"sajak tanda petik"


 lokasi: pinus bandung

Jauh di dasar sini, amat sepi sendiri.
 Bukan tentang sesal.
Namun kusadari perlahan kurasakan batin terluka hebat.
Ah Mamah. Kenapa dulu tak beri aku kakak laki2.
Yang bisa menjaga adik perempuan sepertiku.
 Yang bisa memukul laki2 yg kurang ajar padaku.
Yang bisa mengajariku dgn tulus mana laki2 brengsek.
Yang bisa mengajariku dgn tulus.
 Mengajariku dengan tulus. Dengan tulus.
Dengan tulus.
Ternyata aku hanya seorang anak perempuan Mah.


"Sajak Tanda Petik" | Yogyakarta, 5 Juni 2015
Kaira

Senin, 09 Februari 2015

Feed Back







Jutaan tetes air hujan masih mengiringi malam ini bahkan  sejak sore tadi. Aku tak bisa keluar sekedar dari kamar kos bahkan untuk sekedar mengisi perut yang sudah sejak pagi berteriak minta diisi. aku mencoba mengusir rasa bosan dengan membaca buku, selancar di jejaring sosial, terakhir aku iseng membuka akun blog ku, mulai kubaca kembali postingan-postinganku lamaku..

Aku mulai tersenyum, sekaligus mengutuk perasaan bodohku, aku membaca postingan lama, tentang perasaanku saat itu,, sekilas terlihat aku amat terluka disana,, namaun seberapapun yang kurasakan saat itu, yang jelaas amat banyak kebohongan didalamnya, aku mengutuk diriku saat itu, karena bahkan untuk menulis sebuah perasaan saja aku membohongi diriku sendiri,,

di postingan berjudul "repost:seberapapaun yang kurasakan saat itu, baru2 ini aku tau banyak kebohongan didalamnya"

Saat keadaan berubah menjadi lebih baik, jatuh cinta dan patah hati ternyata hanya sesederhana ini rasanya. Tentunya setelah melewati rasa sakit, jatuh, terluka, tidak percaya, gembira, menangis, tertawa, putus asa, kecewa, kosong, hampa, gelisah dll.

Menariknya, pelajaran yang dapat diambil dari semua ini adalah: selain jujur terhadap orang lain, kita juga harus jujur terhadap diri sendiri, perasaan sendiri..
apa yang terpenting dalam kehidupan?


tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan berada dalam kondisi dan situasi yang setidaknya menurutku amat sangat pelik, sangat asing, sangat tidak biasa, sangat menakutkan, penuh konsekuensi. Apakah aku menyesal bukan lagi hal yang penting. yang aku jalani saat ini, itulah yang terpenting. Bukankah segala sesuatu akan ada konsekuensi dibaliknya.