30
September 2015 kami PEMBEBASAN (Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk
Pembebasan Nasional) Yogyakarta kembali turun ke jalan menggelar aksi
serentak nasional seribu lilin didepan istana Yogyakarta sebagai
bentuk solidaritas untuk Salim Kancil, seorang petani yang dibunuh
dengan biadab oleh preman bayaran pemilik perusahaan tambang di Kota
Lumajang Jawa Timur karena mempertahankan tanahnya. Aksi serentak
nasional ini digelar di seluruh kolektif PEMBEBASAN di Nusantara.
Berawal
dari Penolakan FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDULI DESA SELOK AWAR –
AWAR, Pasirian Kab. Lumajang terhadap penambangan pasir besi yang
berkedok pariwisata yang justru berakibat rusaknya lingkungan desa
pada Januari 2015. Mereka mulai menyampaikan penolakan dan
permohonan audiensi pada Bupati (Juni 2015) tapi tak medapat
tanggapan, sampai akhirnya mereka memutuskan menyetop truk pengangkut
pasir (9 September, 2015). Sehari setelah itu, sekelompok Preman
suruhan kepala desa mulai melakukan intimidasi bahkan mengancam akan
membunuh Tosan, salah satu tokoh yang menolak penambangan tersebut.
Pada
11 September, FORUM KOMUNIKASI melaporkan ancaman pembunuhan
tersebut kepada Polres Lumajang. Tapi belum juga ada tindakan tegas
dari Polres Lumajang. Mereka juga melaporkan bahwa tambang itu ilegal
(Sept. 21) dan berencana menghentikan pertambangan yang terus
berjalan pada 26 Sept.
Pada
pagi hari, 26 Sept. 2015. Tosan kembali didatangi puluhan preman yang
langsung mengeroyoknya. Korban terjatuh, dianiaya, dipukul dengan
pentungan kayu, pacul, Batu dan clurit, setelah terjatuh, mereka
sempat melindas dengan sepeda motor. Tosan akhirnya diselamatkan
temannya dan dibawa ke Rumah Sakit.
Gerombolan
Preman kemudian mendatangi rumah Salim Kancil - salah satu
tokoh FORUM KOMUNIKASI, yang pagi itu sedang menggendong cucunya di
rumah. Salim Kancil lantas menaruh cucunya dilantai, sebelum akhirnya
tangannya diikat lantas diseret ke balai desa setempat yang
jaraknya sekitar 2 km, disaksikan warga desa yang ketakutan, termasuk
anak-anak yang sedang belajar di PAUD.
Sampai
balai desa, dia dipukuli dan disiksa distrum Listrik, dan digergaji
lehernya. Jenasahnya di buang di jalan depan pintu masuk kuburan.
Lihat selengkapnya di:
Dipantara,
selaku koordinator lapangan menjelaskan
Musuh
petani sudah lama berkonsolidasi: pengusaha (tuan
tanah—militer—pemerintahan kapitalis; menghancurkan kesejahteraan
kaum tani, merampas tanah, menentukan komoditas (monopoli harga),
menghancurkan lingkungan (konservasi sawah/kebun menjadi
infrastruktur pengolahan). Sabotase tanah oleh rezim dari tahun ke
tahun selalu membangkitkan perlawanan kaum tani Indonesia. Para
petani sering dipaksa berhadap-hadapan dengan penguasa tanah (modal
asing dan lokal). Selain itu, seringkali juga para petani berhadapan
dengan tentara, baik tentara itu sebagai penjaga modal maupun sebagai
penguasa tanah itu sendiri.
Hari
ini, Salim Kancil dibunuh, ada juga yang disiksa. Tentu mengingatkan
bahwa 50 tahun (setengah abad) yang lalu, lebih dari 360.000 petani
dari Barisan Tani Indonesia dibantai dan disiksa. Musuhnya sama,
meski jamannya berbeda. Permusuhan abadi inilah yang mengharuskan
penyatuan perjuangan rakyat segera dilaksanakan. Berdasarkan data
dari Walhi, tahun 2014 telah terjadi 472 konflik agraria dengan luas
wilayah mencapai 2.860.977,07 hektare yang melibatkan 105.887 KK.
Jumlah konflik tersebut meningkat sebanyak 103 konflik (27,9 persen)
jika dibandingkan dengan jumlah konflik di tahun 2013 (369 konflik).
Tentu
ini bukan kejadian yang pertama kali. Hingga sampai saat ini, aparat
kepolisian hanya menangkap pelaku lapangan, bukan otak pelakunya,
pemilik ijin usaha tambang. Bahkan bupati Lumajang bernama As'at,
ketika diwawancarai di televisi selalu berupaya cuci tangan dengan
alasan ijin usaha tersebut diteken kontrak sebelum dia terpilih.
Sampai di sini, bupati Lumajang terlihat tak mau bertanggung jawab.
Karakter busuk pejabat itulah yang menjadikan mengapa ijin usaha
perusahaan tambang di daerah-daerah begitu mudah sehingga kekerasan
terhadap petani yang terdampak tidak terlindungi.
Sementara,
proses akumulasi dalam wilayah pertanian, di tengah serangan
kapitalisme, terus berjalan di bawah naungan pemerintah dan
militer-milisi sipil reaksioner. Kasus perebutan tanah, klaim atas
penguasaan tanah oleh militer (kepentingan bisnis tentara) selalu
berhadapan dengan rakyat di pedesaan, cangkul dan parang dihadapi
dengan senjata laras panjang dan peluru tajam aparat berseragam dan
preman.
Pembacaan
sikap dibacakan oleh Adly Pellupessy selaku Koordinator Umum
sekaligus Penanggungjawab politik wilayah Yogyakarta:
1.
Seret dan Penjarakan aktor utama pembunuhan Salim Kancil.
2.
Hentikan pemberian ijin pertambangan dan aktifitas tambang.
3.
Hentikan perampasan lahan.
4.
Tanah, modal dan tehnologi modern gratis untuk petani.
Aksi
berlangsung lancar diakhiri dengan menyanyikan lagu Internasionale.