Minggu, 26 Januari 2014

Sekolah Jurnalis :)



percaya tidak percaya, terima tidak terima, suka ataupun tidak suka,,, yang namanya waktu pasti berlalu,,, sedih? iya jelas, tapi ya memang sudah menjadi aturan, kalo tidak berjalan tentu bukan waktu namanya,,
yang jelas aku senang punya kawan2 yang baik hati, lucu, pintar, cerdas, kritis, berkarakter kerakyatan,  mandiri, dan demokratis ekologis serta feminis seperti kalian. :D

Rabu, 22 Januari 2014

The One Got Away- Katy Perry

 lagu ini... kurasa pas.. untuk "kita" :')

Summer after highschool when we first met
Musim panas sepulang sekolah saat kita pertama kali bertemu
We'd make out in your mustang to Radiohead
Kita lalu naik mobil mustangmu ke Radiohead
And on my 18th birthday we got matching tattoos
Dan pada ulang tahunku ke-18 kita membuat tato yang sama

Used to steal your parents liquor and climb to the roof
(kita) biasa mencuri miras orang tuamu dan naik ke atap
Talk about our future like we had a clue
Berbincang tentang masa depan kita seolah kita tahu
Never planned that one day I'd be losing you
Tak pernah berencana bahwa suatu hari aku akan kehilanganmu

CHORUS
In another life, I would be your girl
Di kehidupan lain, aku kan jadi kekasihmu
We'd keep all our promises
Kita akan penuhi janji kita
Be "us" against the world
Menjadi kita hadapi dunia
In another life, I would make you stay
Di kehidupan lain, aku kan membuatmu tak pergi
So I don't have to say
Maka aku tak harus bilang
You were the one that got away
Engkaulah satu hal istimewa yang hilang
The one that got away
Satu hal istimewa yang hilang

I was June and you were my Johnny Cash
Aku adalah Juni dan kau adalah Johnny Cash-ku
Never one without the other, we made a pact
Tak pernah berpisah, kita tlah berjanji
Sometimes when I miss you, I put those records on (woah-oh)
Kadang saat aku merindukanmu, kuputar rekaman itu

Someone said you had your tattoo removed
Seseorang berkata kau hapus tatomu
Saw you downtown, singing the blues
Melihatmu di kota, nyanyikan lagu blues
It's time to face the music, I'm no longer your muse
Saatnya hadapi musik, aku bukan lagi lamunanmu

CHORUS

The o-o-o-o-one (3x)
Satu hal istimewa
The one that got away
Satu hal istimewa yang hilang

All this money can't buy me a time machine (no)
Semua uang ini tak bisa tuk membelikan mesin waktu
Can't replace you with a million rings (no-o-o-o)
Tak bisa gantikanmu dengan sejuta cincin
I should have told you what you meant to me (woah-oh-oh-oh)
Harusnya sudah kukatakan padamu betapa berartinya kau bagiku
Cause now I pay the price
Karena kini harus kubayar semua itu

CHORUS

In another life, I would make you stay
Di kehidupan lain, aku kan membuatmu tak pergi
So I don't have to say
Maka aku tak harus bilang
You were the one that got away
Engkaulah satu hal istimewa yang hilang
The one that got away
Satu hal istimewa yang hilang

Senin, 06 Januari 2014

move___-

rumah lama sepertinya tak lagi nyaman.


mari mencari rumah baru -____-

Kamis, 02 Januari 2014

b u k a n !

entahlah
kenapa perempuan rentan menjadi objek kebohongan
kuberitahu kau, perempuan..
kau pun sama dengan mereka kaum adam
kau pun harus mandiri dengan kemampuanmu berfikir
kau pun harus cerdas
kau pun harus berkarakter
kau pun harus bermartabat
dengan itu kau tak akan terbeli dengan mutiara indah sedalam laut mana pun
tak akan terbeli dengan bait kata-kata seindah apapun

kau bukan korban, wahai perempuan


                                                                                             oleh: Kaira
                                                                        Dibawah sinar lampion, awal tahun 2014

penjaga yang merusak_

 repost dari:  http://tikusmerah.com/?p=1007#comment-843


Tiba-tiba, kau melihat dia tersenyum, walaupun lekas-lekas dihapusnya dengan sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, “Maksudmu, dingin yang seperti sekarang? Hem, memang benar dingin, tapi itulah salah satu alasan mengapa aku mengajakmu ke sini. Kita belum pernah pergi ke pantai. Selama hampir sebulan bersama, kau hanya mau kuajak pergi jika kita mengunjungi tempat dimana orang-orang ramai berkumpul dan lampu-lampu bersinar terang.”
“Lho, memang ada apa dengan tempat-tempat semacam itu? Kau tidak suka?”
“Tidak,” dia menggeleng pasti. “Aku hanya suka pergi ke tempat seperti itu jika bersama teman-temanku saja.”
“Lantas, apa bedanya temanmu dan aku?” Kali ini, kau bertanya sambil memasang ekspresi lugu.
“Jelas berbeda. Kau perempuanku, dan temanku adalah temanku.”
“Apakah itu sebuah jawaban?”
Dia mengangguk.
Sebenarnya, kau menyimpan segudang ilmu tentang lelaki sehingga kau tahu kalau tadi dia asal menjawab demi menyembunyikan maksud hatinya kepadamu. Kau hanya berpura-pura lugu demi mencari seseorang yang bisa melepaskan derita itu darimu. Sebuah kutukan yang membuatmu terpaksa hidup dalam pencarian yang tak kenal lelah—dan kau tidak ingin mati dalam keadaan seperti ini.
“Hei! Mengapa kau diam saja?” suaranya, yang mendadak terdengar sangat dekat di telinga, membuatmu tersentak.
“Ah, tidak. Aku hanya…”
“Kedinginan?” dia menebak sigap. “Kemari. Mendekatlah. Biar ku…”
“Jangan!” tiba-tiba kau menjerit histeris. “Jangan sentuh aku!” Kau menepis keras tangannya yang mulai bergerak.
“Hei! Kau kenapa?!” Kaget membuat dia ikut berteriak.
“Tolong, jangan sentuh aku.”
“Memangnya kenapa? Kau kan kedinginan.”
“Dari mana kau tahu aku kedinginan?”
“Lihatlah itu… Bahumu gemetar.”
“Oh, aku memang gemetar, tapi bukan karena kedinginan.”
“Lantas karena apa?”
“Karena…” Ingin sekali kau melanjutkan ucapan itu dengan kalimat, “…kau akan menyentuhku,” tapi kau merasa belum saatnya. Kau masih ingin mengulur waktu sehingga memutuskan untuk menelan kalimat itu bulat-bulat. Kau menyukai permainan begini.
“Kenapa kau diam? Ayo jawab!” dia mendesak.
Namun, kau setia menggagu. Dan, itulah inti dari permainanmu.
“Jangan jual mahal,” dia berucap meremehkan. “Pakailah…”
“Karena kau akan menyentuhku!” Akhirnya, kau beraksi juga. Kau meletup begini ketika tangannya nyaris berada di bahumu. Inilah saat yang tepat, bisikmu. Kau hapal gerakannya itu dengan pasti, dan apa yang bakal terjadi setelahnya, sebab kau pernah berada pada posisinya.
Sesaat, dia tampak membeku dengan uap putih keluar dari dahinya—entah uap dingin atau amarah. Dari jarak sedekat itu, kau bisa mencium aroma khas lelakinya yang membuat jantungmu bertalu dan darahmu mendesak ke kepala. Kau pun menutup mata sambil berusaha mengusir ingatan tentang aroma tersebut.
“Apa maksudmu dengan ‘jangan menyentuhku’?!” Setelah berhasil menguasai diri, dia langsung berteriak dengan nada terhina. “Dasar perempuan sok suci!”
Dalam pejam, kau mengigiti bibir penuh rasa sakit. Sakit yang bukan tercipta dari kata “sok suci”-nya, melainkan dari nada meremehkan yang ada di baliknya, yang bagai diucapkan seorang tuan kepada hambanya. Kau tidak terima direndahkan begitu. Sejak lahir, kau terbiasa diagung-agungkan. Tapi, ini bukan salahnya, pikirmu kemudian. Dalam keadaanmu yang sekarang, sangatlah wajar baginya merasa lebih mulia. Dia laksana cerminan dirimu dulu.
Kesunyian memadat sejenak. Kau masih setia membisu—kebisuan yang ternyata melunakkannya.