repost dari: http://tikusmerah.com/?p=1007#comment-843
Tiba-tiba, kau melihat dia tersenyum, walaupun lekas-lekas dihapusnya
dengan sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, “Maksudmu, dingin
yang seperti sekarang? Hem, memang benar dingin, tapi itulah salah satu
alasan mengapa aku mengajakmu ke sini. Kita belum pernah pergi ke
pantai. Selama hampir sebulan bersama, kau hanya mau kuajak pergi jika
kita mengunjungi tempat dimana orang-orang ramai berkumpul dan
lampu-lampu bersinar terang.”
“Lho, memang ada apa dengan tempat-tempat semacam itu? Kau tidak
suka?”
“Tidak,” dia menggeleng pasti. “Aku hanya suka pergi ke tempat
seperti itu jika bersama teman-temanku saja.”
“Lantas, apa bedanya temanmu dan aku?” Kali ini, kau bertanya sambil
memasang ekspresi lugu.
“Jelas berbeda. Kau perempuanku, dan temanku adalah temanku.”
“Apakah itu sebuah jawaban?”
Dia mengangguk.
Sebenarnya, kau menyimpan segudang ilmu tentang lelaki sehingga kau
tahu kalau tadi dia asal menjawab demi menyembunyikan maksud hatinya
kepadamu. Kau hanya berpura-pura lugu demi mencari seseorang yang bisa
melepaskan derita itu darimu. Sebuah kutukan yang membuatmu terpaksa
hidup dalam pencarian yang tak kenal lelah—dan kau tidak ingin mati
dalam keadaan seperti ini.
“Hei! Mengapa kau diam saja?” suaranya, yang mendadak terdengar
sangat dekat di telinga, membuatmu tersentak.
“Ah, tidak. Aku hanya…”
“Kedinginan?” dia menebak sigap. “Kemari. Mendekatlah. Biar ku…”
“Jangan!” tiba-tiba kau menjerit histeris. “Jangan sentuh aku!” Kau
menepis keras tangannya yang mulai bergerak.
“Hei! Kau kenapa?!” Kaget membuat dia ikut berteriak.
“Tolong, jangan sentuh aku.”
“Memangnya kenapa? Kau kan kedinginan.”
“Dari mana kau tahu aku kedinginan?”
“Lihatlah itu… Bahumu gemetar.”
“Oh, aku memang gemetar, tapi bukan karena kedinginan.”
“Lantas karena apa?”
“Karena…” Ingin sekali kau melanjutkan ucapan itu dengan kalimat,
“…kau akan menyentuhku,” tapi kau merasa belum saatnya. Kau masih ingin
mengulur waktu sehingga memutuskan untuk menelan kalimat itu
bulat-bulat. Kau menyukai permainan begini.
“Kenapa kau diam? Ayo jawab!” dia mendesak.
Namun, kau setia menggagu. Dan, itulah inti dari permainanmu.
“Jangan jual mahal,” dia berucap meremehkan. “Pakailah…”
“Karena kau akan menyentuhku!” Akhirnya, kau beraksi juga. Kau
meletup begini ketika tangannya nyaris berada di bahumu. Inilah saat
yang tepat, bisikmu. Kau hapal gerakannya itu dengan pasti, dan apa
yang bakal terjadi setelahnya, sebab kau pernah berada pada posisinya.
Sesaat, dia tampak membeku dengan uap putih keluar dari dahinya—entah
uap dingin atau amarah. Dari jarak sedekat itu, kau bisa mencium aroma
khas lelakinya yang membuat jantungmu bertalu dan darahmu mendesak ke
kepala. Kau pun menutup mata sambil berusaha mengusir ingatan tentang
aroma tersebut.
“Apa maksudmu dengan ‘jangan menyentuhku’?!” Setelah berhasil
menguasai diri, dia langsung berteriak dengan nada terhina. “Dasar
perempuan sok suci!”
Dalam pejam, kau mengigiti bibir penuh rasa sakit. Sakit yang bukan
tercipta dari kata “sok suci”-nya, melainkan dari nada meremehkan yang
ada di baliknya, yang bagai diucapkan seorang tuan kepada hambanya. Kau
tidak terima direndahkan begitu. Sejak lahir, kau terbiasa
diagung-agungkan. Tapi, ini bukan salahnya, pikirmu kemudian. Dalam
keadaanmu yang sekarang, sangatlah wajar baginya merasa lebih mulia. Dia
laksana cerminan dirimu dulu.
Kesunyian memadat sejenak. Kau masih setia membisu—kebisuan yang
ternyata melunakkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar