Kamis, 02 Januari 2014

penjaga yang merusak_

 repost dari:  http://tikusmerah.com/?p=1007#comment-843


Tiba-tiba, kau melihat dia tersenyum, walaupun lekas-lekas dihapusnya dengan sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, “Maksudmu, dingin yang seperti sekarang? Hem, memang benar dingin, tapi itulah salah satu alasan mengapa aku mengajakmu ke sini. Kita belum pernah pergi ke pantai. Selama hampir sebulan bersama, kau hanya mau kuajak pergi jika kita mengunjungi tempat dimana orang-orang ramai berkumpul dan lampu-lampu bersinar terang.”
“Lho, memang ada apa dengan tempat-tempat semacam itu? Kau tidak suka?”
“Tidak,” dia menggeleng pasti. “Aku hanya suka pergi ke tempat seperti itu jika bersama teman-temanku saja.”
“Lantas, apa bedanya temanmu dan aku?” Kali ini, kau bertanya sambil memasang ekspresi lugu.
“Jelas berbeda. Kau perempuanku, dan temanku adalah temanku.”
“Apakah itu sebuah jawaban?”
Dia mengangguk.
Sebenarnya, kau menyimpan segudang ilmu tentang lelaki sehingga kau tahu kalau tadi dia asal menjawab demi menyembunyikan maksud hatinya kepadamu. Kau hanya berpura-pura lugu demi mencari seseorang yang bisa melepaskan derita itu darimu. Sebuah kutukan yang membuatmu terpaksa hidup dalam pencarian yang tak kenal lelah—dan kau tidak ingin mati dalam keadaan seperti ini.
“Hei! Mengapa kau diam saja?” suaranya, yang mendadak terdengar sangat dekat di telinga, membuatmu tersentak.
“Ah, tidak. Aku hanya…”
“Kedinginan?” dia menebak sigap. “Kemari. Mendekatlah. Biar ku…”
“Jangan!” tiba-tiba kau menjerit histeris. “Jangan sentuh aku!” Kau menepis keras tangannya yang mulai bergerak.
“Hei! Kau kenapa?!” Kaget membuat dia ikut berteriak.
“Tolong, jangan sentuh aku.”
“Memangnya kenapa? Kau kan kedinginan.”
“Dari mana kau tahu aku kedinginan?”
“Lihatlah itu… Bahumu gemetar.”
“Oh, aku memang gemetar, tapi bukan karena kedinginan.”
“Lantas karena apa?”
“Karena…” Ingin sekali kau melanjutkan ucapan itu dengan kalimat, “…kau akan menyentuhku,” tapi kau merasa belum saatnya. Kau masih ingin mengulur waktu sehingga memutuskan untuk menelan kalimat itu bulat-bulat. Kau menyukai permainan begini.
“Kenapa kau diam? Ayo jawab!” dia mendesak.
Namun, kau setia menggagu. Dan, itulah inti dari permainanmu.
“Jangan jual mahal,” dia berucap meremehkan. “Pakailah…”
“Karena kau akan menyentuhku!” Akhirnya, kau beraksi juga. Kau meletup begini ketika tangannya nyaris berada di bahumu. Inilah saat yang tepat, bisikmu. Kau hapal gerakannya itu dengan pasti, dan apa yang bakal terjadi setelahnya, sebab kau pernah berada pada posisinya.
Sesaat, dia tampak membeku dengan uap putih keluar dari dahinya—entah uap dingin atau amarah. Dari jarak sedekat itu, kau bisa mencium aroma khas lelakinya yang membuat jantungmu bertalu dan darahmu mendesak ke kepala. Kau pun menutup mata sambil berusaha mengusir ingatan tentang aroma tersebut.
“Apa maksudmu dengan ‘jangan menyentuhku’?!” Setelah berhasil menguasai diri, dia langsung berteriak dengan nada terhina. “Dasar perempuan sok suci!”
Dalam pejam, kau mengigiti bibir penuh rasa sakit. Sakit yang bukan tercipta dari kata “sok suci”-nya, melainkan dari nada meremehkan yang ada di baliknya, yang bagai diucapkan seorang tuan kepada hambanya. Kau tidak terima direndahkan begitu. Sejak lahir, kau terbiasa diagung-agungkan. Tapi, ini bukan salahnya, pikirmu kemudian. Dalam keadaanmu yang sekarang, sangatlah wajar baginya merasa lebih mulia. Dia laksana cerminan dirimu dulu.
Kesunyian memadat sejenak. Kau masih setia membisu—kebisuan yang ternyata melunakkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar