Saat itu aku diam. Aku tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Lama rasanya waktu putar tentang pengkhianatan, namun aku merasa fragmen itu membeku, menyisakan lukisan tragis yang terus aku benci namun terus terkenang. Rasa sakit yang tidak mampu ditawar. Rasa sakit yang terus jeda, terekam oleh waktu.
Pengkhianatan tidak cuma oleh perselingkuhan yang terang-terangan. Terkadang juga terbit dari perselingkuhan diam-diam. bahwa engkau mungkin tidak selingkuh namun ketika hatimu terpaut kepada seseorang yang lain selain pasanganmu, walau sedetik, engkau menikmati, engkau telah mengkhianati.
Mengapa harus mengkhianati jika engkau mampu setia? Apakah karena sejenak kenikmatan yang didapat dari pertemuan dua insan yang berbeda, atau karena akumulasi dari rasa bosan yang menjemukan dari satu pasangan?
Setiap orang pasti punya rasa bosan. Namun pengkhianatan bukan jawaban atas segala kebosanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar