Kamis, 01 Oktober 2015

Aksi Seribu Lilin Solidaritas untuk Salim Kancil; Nyawa Tak Semahal Tambang







30 September 2015 kami PEMBEBASAN (Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional) Yogyakarta kembali turun ke jalan menggelar aksi serentak nasional seribu lilin didepan istana Yogyakarta sebagai bentuk solidaritas untuk Salim Kancil, seorang petani yang dibunuh dengan biadab oleh preman bayaran pemilik perusahaan tambang di Kota Lumajang Jawa Timur karena mempertahankan tanahnya. Aksi serentak nasional ini digelar di seluruh kolektif PEMBEBASAN di Nusantara.

Berawal dari Penolakan FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDULI DESA SELOK AWAR – AWAR, Pasirian Kab. Lumajang terhadap penambangan pasir besi yang berkedok pariwisata yang justru berakibat rusaknya lingkungan desa pada Januari 2015.  Mereka mulai menyampaikan penolakan dan permohonan audiensi pada Bupati (Juni 2015) tapi tak medapat tanggapan, sampai akhirnya mereka memutuskan menyetop truk pengangkut pasir (9 September, 2015). Sehari setelah itu, sekelompok Preman suruhan kepala desa mulai melakukan intimidasi bahkan mengancam akan membunuh Tosan, salah satu tokoh yang menolak penambangan tersebut.

Pada 11 September, FORUM KOMUNIKASI  melaporkan ancaman pembunuhan tersebut kepada Polres Lumajang. Tapi belum juga ada tindakan tegas dari Polres Lumajang. Mereka juga melaporkan bahwa tambang itu ilegal (Sept. 21) dan berencana menghentikan pertambangan yang terus berjalan pada 26 Sept.
Pada pagi hari, 26 Sept. 2015. Tosan kembali didatangi puluhan preman yang langsung mengeroyoknya. Korban terjatuh, dianiaya, dipukul dengan pentungan kayu, pacul, Batu dan clurit, setelah terjatuh, mereka sempat melindas dengan sepeda motor. Tosan akhirnya diselamatkan temannya dan dibawa ke Rumah Sakit.
Gerombolan Preman kemudian  mendatangi rumah Salim Kancil - salah satu tokoh FORUM KOMUNIKASI, yang pagi itu sedang menggendong cucunya di rumah. Salim Kancil lantas menaruh cucunya dilantai, sebelum akhirnya tangannya diikat  lantas diseret ke balai desa setempat yang jaraknya sekitar 2 km, disaksikan warga desa yang ketakutan, termasuk anak-anak yang sedang belajar di PAUD.
Sampai balai desa, dia dipukuli dan disiksa distrum Listrik, dan digergaji lehernya. Jenasahnya di buang di jalan depan pintu masuk kuburan. Lihat selengkapnya di:

 
Dipantara, selaku koordinator lapangan menjelaskan Musuh petani sudah lama berkonsolidasi: pengusaha (tuan tanah—militer—pemerintahan kapitalis; menghancurkan kesejahteraan kaum tani, merampas tanah, menentukan komoditas (monopoli harga), menghancurkan lingkungan (konservasi sawah/kebun menjadi infrastruktur pengolahan). Sabotase tanah oleh rezim dari tahun ke tahun selalu membangkitkan perlawanan kaum tani Indonesia. Para petani sering dipaksa berhadap-hadapan dengan penguasa tanah (modal asing dan lokal). Selain itu, seringkali juga para petani berhadapan dengan tentara, baik tentara itu sebagai penjaga modal maupun sebagai penguasa tanah itu sendiri.

Hari ini, Salim Kancil dibunuh, ada juga yang disiksa. Tentu mengingatkan bahwa 50 tahun (setengah abad) yang lalu, lebih dari 360.000 petani dari Barisan Tani Indonesia dibantai dan disiksa. Musuhnya sama, meski jamannya berbeda. Permusuhan abadi inilah yang mengharuskan penyatuan perjuangan rakyat segera dilaksanakan. Berdasarkan data dari Walhi, tahun 2014 telah terjadi 472 konflik agraria dengan luas wilayah mencapai 2.860.977,07 hektare yang melibatkan 105.887 KK. Jumlah konflik tersebut meningkat sebanyak 103 konflik (27,9 persen) jika dibandingkan dengan jumlah konflik di tahun 2013 (369 konflik).

Tentu ini bukan kejadian yang pertama kali. Hingga sampai saat ini, aparat kepolisian hanya menangkap pelaku lapangan, bukan otak pelakunya, pemilik ijin usaha tambang. Bahkan bupati Lumajang bernama As'at, ketika diwawancarai di televisi selalu berupaya cuci tangan dengan alasan ijin usaha tersebut diteken kontrak sebelum dia terpilih. Sampai di sini, bupati Lumajang terlihat tak mau bertanggung jawab. Karakter busuk pejabat itulah yang menjadikan mengapa ijin usaha perusahaan tambang di daerah-daerah begitu mudah sehingga kekerasan terhadap petani yang terdampak tidak terlindungi.

Sementara, proses akumulasi dalam wilayah pertanian, di tengah serangan kapitalisme, terus berjalan di bawah naungan pemerintah dan militer-milisi sipil reaksioner. Kasus perebutan tanah, klaim atas penguasaan tanah oleh militer (kepentingan bisnis tentara) selalu berhadapan dengan rakyat di pedesaan, cangkul dan parang dihadapi dengan senjata laras panjang dan peluru tajam aparat berseragam dan preman.

Pembacaan sikap dibacakan oleh Adly Pellupessy selaku Koordinator Umum sekaligus Penanggungjawab politik wilayah Yogyakarta:

1. Seret dan Penjarakan aktor utama pembunuhan Salim Kancil.
2. Hentikan pemberian ijin pertambangan dan aktifitas tambang.
3. Hentikan perampasan lahan.
4. Tanah, modal dan tehnologi modern gratis untuk petani.

Aksi berlangsung lancar diakhiri dengan menyanyikan lagu Internasionale.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar